Sabtu, 21 November 2009

janji masa lalu part 2

Perasaan Dini makin gundah dan gelisah. Dia mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh dan dungu. Ia membiarkan dirinya larut dalam bujukan setan yang menyesatkan. Ia tak bisa mengontrol hawa nafsunya. Seharusnya sejak semula ia tahu, perbuatan itu sangat bertentangan. Ia telah menghianati Aby. Merusak kepercayannya. Tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tiada guna.

Kini yang terpikir dalam benaknya adalah berusaha menyembunyikan kebohongannya. Tapi sampai kapan? Waktu yang terus berjalan justru telah menyiksa batinnya. Ia dikejar perasaan bersalah dan berdosa. Apalagi saat berhadapan dengan Aby. Meski Aby tak menaruh rasa curiga sama sekali, namun perasaan Dini jengah sendiri. Ia merasakan tatapan mata Aby menghujam dalam hingga di lubuk hatinya. Dini tidak banyak bicara karena takut akan keceplosan bicara.

Ia berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut masalah perselingkuhan. Ia juga berusaha tak memperlihatkan sikap dan tabiat yang bisa memancing kecurigaan Aby. Dini bersandiwara didepan Aby namun ini malah menimbulkan kecanggungan. Dini sering serba salah tingkah. Ia jadi serba salah sendiri.

“ Sudahlah, Din. Kenapa kamu bingung sendiri. Semuanya kan sudah berlalu. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Banyak kok cewek didunia ini yang selingkuh, tapi mereka enjoy-enjoy aja,” ujar Nida teman sekelas dikampusnya.

“ Aku tidak bisa berpura-pura terus, Nid. Bagiku masalah ini sangat serius. Aku marasa bersalah kerena telah menghianatinya. Aku tak sanggup membiarkannya tertipu kebohonganku. Lagian kamu takkan mengerti,” ujar Dini tegas.

“ Aku salut sama kamu, Din. Kamu benar-benar cewek yang lugu, sampai kamu merasa bersalah karena persoalan sekecil itu,”

“ Bagiku ini bukan persoalan kecil lagi, Nid. Ini sudah menyangkut komitmen kami dan tentunya harga diri aku!”

“ Oke, Din! Aku paham dengan pemikiranmu. Tapi cobalah berfikir tenang dulu. Yang namanya pacaran tidak selamanya berjalan lancar. Selalu ada riak-riak dan persoalan. Setiap orang pernah berbuat khilaf dan salah. Jadi dimaklumi. Anggap saja itu sebagai bumbu!".

“ Tapi, Nid aku selalu dikejar rasa bersalah. Aby begitu baik dan tulus. Dia tidak pernah sekalipun menyakitiku. Dia tidak pernah bohong padaku. Sementara aku? Aku cewek yang pengecut. Rasanya ini tidak adil baginya!”

“ Jadi maumu bagaimana? Apa kamu mau mengakui perbuatanmu itu dan meminta maaf pada Aby? Kalau menurutmu itu yang paling baik silahkan!”
“ Itulah yang sangat berat bagiku, Nid. Aku tak berani terus terang aku takut menyakiti hatinya.”

“ Kalau kamu takut berterus terang dan tak ingin melukai hati Aby, ya sudah kamu diam saja. Kanapa mesti repot memikirkannya. Selama Aby tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Memang siapa lagi yang tahu perbuatan itu kecuali aku dan kamu? Memang kamu tidak percaya aku akan tutup mulut? Jadi kenapa mesti khawatir?” Tandas Nida meyakinkan.

Dini terdiam, Nida hanya tahu sebatas perselingkuhan yang lainnya tidak. Tapi apa yang dikatakan Nida ada benarnya juga Selama Aby tidak ada yang memberi tahu, tentu saja rahasia ini tidak akan terbongkar. Kalaupun nantinya Aby tahu, maka Dini sudah bisa memastikannya siapa yang membocorkannya. NIDA!!! Tapi Nida sudah memberi jaminan bahwa dia tidak akan memberi tahu siapapun.

......to be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar